Ngapak Media

Pengalaman Pertama bersama “Air Asia” Indonesia

Disclaimer terlebih dahulu. Dikarenakan aku baru pernah melakukan penerbangan dengan dua maskapai yang berbeda maka yang aku tuliskan di sini mungkin secara tidak sadar merupakan perbandingan pengalaman di keduanya.

Booking Tiket dan Check-In

Aku book tiket pesawat seminggu sebelum hari H penerbangan dan dapat tiket seharga 1.856.334 rupiah untuk kelas ekonomi. Dengan jadwal penerbangan di hari Jumat siang, aku datang sekitar 2 jam sebelum penerbangan dan antrean konter Air Asia masih sangat sepi sehingga proses check-in bagasi juga sangat cepat. Hanya saja ternyata aku ngga bisa duduk di kursi yang berdekatan dengan temanku yang satu pesawat. So sad… Saat check-in, staff nya sangat ramah dan mau membantu aku yang pertama kali akan naik pesawat.

Masuk Gate

Di proses masuk gate sebelum lepas landas ini, kami diminta untuk berbaris sesuai dengan bagian yang tertera pada tiket. Ada bagian 1, 2, dan 3 kalau ngga salah. Jadi kita harus tau dimana bagiannya dan nomor tempat duduknya berapa.

Setelah masuk ke dalam lorong gate nya ternyata masih ada proses menimbang tas yang akan dibawa masuk ke dalam kabin pesawat. Di sinilah drama biasanya terjadi. Umumnya Air Asia memberikan kapasitas untuk kabin hingga 7 kilogram per penumpangnya. Namun, tetap saja ada yang memaksakan diri membawa lebih dari berat yang sudah ditetapkan.

Jujur, di kondisi ini aku lumayan panik karena bukan hanya satu atau dua orang yang tertahan. Bayangan terburuk adalah bagiamana kalau mereka lolos dan pesawatnya kelebihan muatan. Bisa wasalam berjamaah kita. Jadi aku berpesan buat kita semua untuk mematuhi peraturan dari pihak maskapai saja supaya tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Di Dalam Pesawat

Ketika aku sudah kebagian masuk ke dalam pesawat, sebenarnya kaki mulai lemes ya tapi berdoa dan berserah diri aja gimana hasilnya. Kesan pertama yang muncul adalah, syukurlah AC nya menyala dengan baik jadi walaupun menunggu beberapa menit di dalam pesawat tetap nyaman.

Aku duduk di paling pinggir dekat jalan atau sela dimana cabin crew nya berlalu lalang menjelaskan penggunaan safety kit apabila terjadi kondisi darurat. Cara menjelaskannya juga cukup bagus walaupun kehalang beberapa orang yang lebih tinggi di depanku. But overall pelayanannya bagus, ramah, dan profesional.

Setelah pesawat lepas landas badan mulai gemetar, tangan dingin, dan tidak bisa istirahat. Penerbangan dua setengah jam berasa enam jam karena tidak kunjung sampai. Terlebih lagi pesawat mengalamai beberapa kondisi turbulensi. Sebenarnya waktu take off dari Bandara Juanda, kondisi cuaca sangat baik, makanya kami bisa berangkat dengan tepat waktu. Namun ketika hampir memasuki Malaysia, beberapa turbulensi terjadi.

Turbulensi

Kalau kalian bertanya turbulensi itu seperti apa sih? Mungkin aku bisa mendeskripsikannya seperti angkot yang berjalan di atas tanah tidak rata. Jadi tubuh bergerak menyesuaikan kondisi pesawat. Tapi jangan panik, karena pasti sebelum turbulensi terjadi baik dari pihak pilot atau pramugari juga mengantisipasi dengan memberikan arahan dan pemberitahuan melalui pengeras suara.

Apa yang aku lakukan selama mengalami turbulensi? Jawabannya adalah DZIKIR dan ISTIGHFAR dalam hati. Pada saat itu kita tidak tau kapan dan apa yang akan terjadi. Sehingga bersiaplah untuk kondisi terburuknya saja. Tapi tetap berdoa untuk hasil yang terbaik.

Oh ya ketika turbulensi sering terjadi atau beberapa kali terjadi, tidak disarankan untuk menggunakan kamar kecil ya. Jadi lebih baik buang air ketika sebelum naik pesawat atau ketika pesawat baru lepas landas. Berdasarkan pengalamanku pribadi ketika turbulensi dan kita berada di dalam kamar kecil rasanya sangat gelisah karena antara menahan diri untuk tidak panik tetapi juga dalam kondisi melakukan aktivitas buang air kecil. Kalaupun mau, disarankan buang air kecil dalam posisi duduk supaya tetap seimbang.

Pelayanan Crew Pesawat

Secara penampilan sudah dipastikan para crew pesawat diharuskan rapi. Begitu pula di maskapai ini. Dengan kombinasi warna seragam hitam dan merah, membuat penampilan mereka semakin kece. Hal yang paling aku sadari adalah bagaimana mereka dengan ramah tetapi tetap tegas memberikan arahan kepada para penumpang yang baru masuk dan belum bisa mendapatkan kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya.

Kemampuan bahasa asing mereka juga menurutku sangat cukup untuk berkomunikasi dengan penumpang dari negara lain. Selain itu, mereka juga sangat disiplin dalam melayani pembelian makanan di dalam pesawat, cekatan tapi tetap ramah.

Pendaratan

Akut tidak banyak berkomentar tentang pendaratannya, karena aku rasa semua pilot sudah terlatih dengan baik. Hanya saja beruntung atau tidaknya dengan cuaca penerbangan pada saat itu. Hal ini aku sampaikan karena dua kali naik pesawat dan pendaratannya tidak berbeda jauh. Mungkin kalau maskapai lain ada yang menutup pendaratan dengan pantun, kalau di Air Asia ini hanya dengan informasi biasa dan ucapan terima kasih.

Jadi sebenarnya naik pesawat tidak semenakutkan itu sih. Namun memang banyak hal yang di luar kendali kita yang membuat kita kadang tidak yakin apakah akan menjadi penerbangan pertama atau terakhir. Oleh karena itu di artikel di bawah ini, aku menyampaikan bahwa persiapan spiritual itu juga perlu.

Kesimpulannya, Air Asia ini bisa jadi pilihan buat kita kaum mendang-mending tapi tetap mau yakin sampai dengan fasilitas yang baik dan pelayanan yang ciamik. So, kapan mau coba pakai Air Asia untuk penerbangan internasionalmu?

Author

  • Riza
    Author:

    Seorang lulusan Fakultas Pendidikan yang memberanikan dirinya untuk banting stir dengan bergelut di dunia IT serta mencoba menjadi penulis dari perjalanan hidupnya sendiri

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help? Contact Us
Scroll to Top